Sebuah Komunitas Dakwah yang Bergerak di Bidang Syi'ar Islam Melalui Berbagai Media.

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamu Telah Memakan Bangkai Saudaramu

Tidak ada komentar :


"Janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."

secara sadar atau tidak, bagi orang yang senang ngerumpi, membicarakan/menceritakan keburukan/aib orang lain walaupun dianggap enteng sambil tertawa dan mereka meremehkan namun, orang-orang seperti itu bagaikan memakan daging saudaranya yang sudah mati,, Astaghfirullahaladzim


"Ghibah itu adalah membicarakan tentang saudaramu terhadap apa yang ia tidak sukai." "Bagaimana jika padanya terdapat seperti apa yang saya katakan?" tanya Abu Hurairah. "Jika ada padanya seperti yang anda katakan, maka engkau telah menggunjingnya (ghibah). Namun, jika tidak ada padanya seperti yang anda katakan, maka engkau telah membuat kebohongan atas dia." (Tirmizi, hasan sahih)

Suatu ketika Aisyah r.a. berkata kepada Nabi saw., "Cukuplah bagimu tentang Shafiyah itu begini dan begini." (Maksudnya Shafiyah itu badannya pendek). Maka Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh, engkau telah mengucapkan sesuatu perkataan, yang sekiranya dicampur dengan air laut, maka perkataan itu dapat mencampurinya." (Abu Dawud dan Tirmidzi). Maksudnya, sekiranya perkataan itu bercampur dengan air laut, niscaya air laut tersebut berbau busuk semua. Padahal, air laut itu tidak akan busuk lantaran kadar garamnya banyak. Ini menunjukkan betapa dahsyat keburukan ghibah.

Al-Imam an-Nawawi berkata dalam al-Adzkar, "Adapun ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, sama saja apakah menyangkut tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama saja apakah engkau menyebut tentang orang tersebut dengan bibirmu, atau tulisanmu, isyarat matamu, isyarat tanganmu, isyarat kepalamu atau yang semisalnya...."

Demikianlah ghibah. Ia dapat meruntuhkan kehormatan seseorang yang digunjing. Karena, kehormatan tidak hanya aurat, tetapi kehormatan juga berupa celaan atau pujian. Ketika kita menggunjing seseorang, hakikatnya kita telah menggerogoti kehormatannya. Padahal, menjaga kehormatan sesama termasuk inti wasiat Rasulullah dalam khutbatul wada': "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti halnya keharaman hari kalian ini." Tidak hanya itu, diakhir khotbah Rasulullah menegaskan, "Ingatlah, adakah aku sampaikan?" "Ya," jawab para Sahabat. Beliau kemudian berkata, "Ya Allah, saksikanlah!" (Bukhari dan Muslim).

Bukan berarti setiap menyebut aib sesama dilarang. Dalam konteks tertentu, penyebutan aib seseorang dapat dibenarkan, seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, misalnya mengadukan kezaliman seseorang pada pihak berwenang dalam rangka meminta fatwa (istifta'), dalam rangka jarh wat-ta'diel, dalam rangka musyawarah mencari jodoh, menyebut kejelakan orang yang terang-terangan berbuat maksiyat, dan menyebut seseorang dengan gelaran yang ia masyhur dengannya.

Semoga kita dapat menjaga lisan dari menggunjing sesama,Nastaghfirullah al-adhim. Wallahu a'lam. (Abu Zahrah).

Sumber : Al-Islam

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar